Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=v33TcvOeY7Q
Banyak orang ingin hidupnya lebih maju, lebih hebat, dan lebih baik. Namun, terkadang hambatan dalam kehidupan justru datang dari lingkungan dan orang-orang yang kita pilih untuk berada di sekitar kita.
Ada orang-orang yang secara terus-menerus memberikan pengaruh negatif, menguras energi, menghambat perkembangan, bahkan memanipulasi kita.
Berikut lima jenis orang yang perlu kita kenali dan waspadai.
1. Si Paling Playing Victim
Orang dengan tipe ini selalu merasa dirinya adalah orang yang paling menderita, paling susah, paling sedih, dan paling menjadi korban. Ketika orang lain bercerita tentang masalahnya, ia selalu merasa harus menunjukkan bahwa penderitaannya lebih berat.
Misalnya:
“Kaki saya sakit.”
Lalu ia menjawab:
“Kamu masih mending. Kemarin kepala saya sampai sakit karena tertimpa bata.”
Seolah-olah tidak boleh ada orang lain yang mempunyai masalah yang lebih berat darinya.
Ciri lainnya adalah pembicaraan yang selalu negatif. Ia sering mengeluhkan:
- Bos yang jahat.
- Klien yang tidak bisa dipercaya.
- Pasangan yang tidak peduli.
- Pemerintah yang salah.
- Orang lain yang selalu dianggap sebagai penyebab masalah.
Ia juga sering mencari simpati melalui cerita-cerita sedih, termasuk melalui status media sosial.
Yang perlu diperhatikan bukanlah orang yang sedang mengalami masalah atau membutuhkan pertolongan. Masalahnya adalah ketika seseorang terus-menerus menempatkan dirinya sebagai korban dan menjadikan posisi tersebut sebagai pola hidup untuk mendapatkan simpati atau memengaruhi orang lain.
2. Si Paling Anti-Nasihat
Tipe kedua adalah orang yang merasa dirinya selalu paling benar.
Ketika menghadapi masalah dan meminta pendapat, kemudian diberikan nasihat, ia selalu mempunyai jawaban untuk menolak:
“Iya sih, tapi...”
“Kalau begini bagaimana?”
“Kayaknya bukan begitu.”
“Menurut saya yang benar begini.”
Pada akhirnya, ia sebenarnya tidak mencari nasihat. Ia hanya ingin mendapatkan pembenaran terhadap apa yang sudah dipikirkannya.
Orang seperti ini juga cenderung sulit menerima kritik dan sulit mengoreksi dirinya sendiri.
Memberikan nasihat kepada orang yang sama sekali tidak mau menerima masukan dapat menjadi pemborosan waktu, tenaga, dan pikiran.
Ada pepatah yang menggambarkan kondisi tersebut:
“Seperti menggarami laut.”
Sebanyak apa pun nasihat yang diberikan, tidak menghasilkan perubahan apabila orang tersebut memang tidak mau belajar.
3. Si Penyedot Energi
Tipe ketiga adalah orang yang membuat kita merasa sangat lelah setelah berinteraksi dengannya.
Ketika bertemu dengannya, pembicaraan sering dipenuhi:
- Keluhan.
- Hal-hal negatif.
- Gosip.
- Rumor.
- Konflik.
- Membicarakan keburukan orang lain.
Contohnya dapat kita temui di lingkungan kerja. Baru pagi hari bertemu, tetapi sudah diajak mengobrol panjang tentang berbagai masalah pribadi.
Jika pola tersebut terus berlangsung, waktu, tenaga, perhatian, dan energi kita ikut terserap.
Karena itu, kita perlu memperhatikan bagaimana perasaan kita setelah berinteraksi dengan seseorang.
Apakah hubungan tersebut membuat kita menjadi lebih baik dan produktif, atau justru terus-menerus membuat kita lelah dan negatif?
4. Si Paling Suka Menunda
Orang tipe ini mempunyai banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu.
Ia mengatakan:
“Tahun depan saya mau kurus.”
Tetapi tidak pernah mulai berolahraga.
Atau:
“Tahun ini saya mau belajar bahasa Mandarin.”
Tetapi selalu ada alasan untuk tidak memulainya.
Ketika diberikan pekerjaan, alasannya bisa berganti-ganti:
“Laptop saya rusak.”
Ketika laptop sudah diperbaiki:
“Chargernya tertinggal.”
Setelah charger ditemukan:
“Tidak ada listrik.”
Kemudian muncul alasan berikutnya.
Intinya, selalu ada banyak alasan untuk menunda, tetapi tidak pernah ada alasan yang cukup kuat untuk segera bertindak.
Yang lebih berbahaya, kebiasaan menunda dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya.
Bayangkan seseorang mempunyai cita-cita:
- Menguasai tiga bahasa.
- Kuliah di luar negeri.
- Mendapatkan beasiswa.
- Mencapai skor TOEFL tinggi.
Tetapi ia kemudian sering bergaul dengan orang yang berkata:
“Sudahlah, main dulu.”
“Mabar dulu.”
“Ngopi dulu.”
“Satu rokok lagi.”
Akhirnya rencana terus tertunda.
Jika kita ingin maju, kita perlu berada di lingkungan orang-orang yang produktif, mempunyai tujuan, dan terbiasa mengambil tindakan.
5. Sang Manipulator
Tipe kelima adalah orang yang suka memanipulasi orang lain demi kepentingannya sendiri.
Ia bisa saja terlihat:
- Sangat baik.
- Suka menolong.
- Dermawan.
- Aktif dalam kegiatan sosial.
- Peduli terhadap orang lain.
Namun, semua itu bisa digunakan sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan atau mengendalikan orang lain.
Manipulator bahkan dapat menggunakan berbagai cara, termasuk:
- Berbohong.
- Mengadu domba.
- Memanfaatkan rasa kasihan.
- Memanfaatkan hubungan emosional.
- Membuat orang lain bertengkar demi kepentingannya sendiri.
Contoh sederhananya adalah orang yang sering meminjam uang dengan berbagai alasan menyedihkan. Setelah mendapatkan uang, ternyata uang tersebut digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan alasan sebelumnya.
Manipulasi juga dapat terjadi dalam hubungan pribadi.
Misalnya, seseorang yang memengaruhi pasangannya untuk bertengkar dengan orang tua sendiri demi memenuhi kepentingan pribadi.
Jika dibiarkan, perilaku manipulatif dapat merusak:
- Keluarga.
- Hubungan pertemanan.
- Hubungan kerja.
- Bahkan sebuah organisasi atau perusahaan.
Karena itu, tipe ini perlu diwaspadai dengan serius.
Jangan Salah Menempatkan Kebaikan
Menjadi orang baik, suka membantu, suka beramal, dan peduli kepada orang lain tentu merupakan hal yang baik.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar kebaikan tidak diberikan kepada orang yang justru memanfaatkannya untuk merugikan kita.
Jangan sampai kita kehilangan:
- Uang.
- Waktu.
- Tenaga.
- Energi.
- Pikiran.
hanya karena terus berusaha menghadapi orang-orang yang tidak mau berubah atau justru terus memanfaatkan kita.
Tidak semua orang harus kita selamatkan.
Tidak semua masalah orang lain harus menjadi tanggung jawab kita.
Terkadang kita perlu berani mengambil keputusan untuk menjaga diri sendiri.
Jika seseorang terus-menerus memberikan pengaruh buruk dan tidak ada kemauan untuk berubah, kita boleh menjaga jarak, membatasi interaksi, atau mengakhiri hubungan tersebut.
Jangan sampai keinginan untuk menjadi “penyelamat” justru membuat kehidupan kita sendiri ikut hancur.
Penutup
Lima tipe orang yang perlu kita waspadai adalah:
- Si Paling Playing Victim — selalu merasa menjadi korban.
- Si Paling Anti-Nasihat — merasa selalu paling benar dan sulit menerima kritik.
- Si Penyedot Energi — terus membawa energi negatif, keluhan, gosip, dan konflik.
- Si Paling Suka Menunda — mempunyai banyak alasan untuk tidak bertindak.
- Sang Manipulator — memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Namun, yang paling penting bukan sekadar mengidentifikasi orang lain.
Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah tanpa sadar saya juga mempunyai salah satu sifat tersebut?”
Karena lingkungan yang sehat bukan hanya tentang menjauhi orang yang buruk, tetapi juga tentang menjadi orang yang memberikan pengaruh baik bagi orang-orang di sekitar kita.
Papan diskusi masih kosong. Jadilah pionir penyulut diskusi!